6 Desember 2018, Komunitas Movie
On Campus Fakultas Pendidikan Psikologi UNJ mengadakan acara nonton bersama
film mengenai salah satu gangguan psikologis bertemakan Dissociative Identity
Disorder yaitu Sybl. Kemudian acaranya berlanjut ke acara talkshow bersama
survivor dari Dissociative Identity Disorder (DID) yaitu mba Anastasia Wella. Acara
ini berlangsung di aula lantai 2 gedung Pascasarjana UNJ. Sebelum talkshow
dimulai, dosen dari Psikologi UNJ, Ibu Irma Rosalinda, M.Psi, menjelaskan
secara garis besar pengertian dari Dissociative Identity Disorder,
faktor-faktor penyebab, mitos dan fakta seputar
DID. Faktor-faktor yang dapat menjadi pencetus gangguan psikologis ini
adalah adanya tindakan abusive (bahkan torture) yang dialami oleh individu di
masa lalu atau masa kecilnya. Pengalaman tersebut didorong ke alam bawah
sadarnya (direpress) karena individu tersebut tidak bisa menghadapai
permasalahan tersebut sendiri sehingga dia memunculkan sosok lain yang dia
anggap lebih kuat dibanding dirinya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sosok
lain itulah yang berkembang menjadi kepribadian baru dalam diri seorang
individu. Ibu Irma juga menganalogikan kepribadian seseorang itu seperti gelas
kaca. Masalah dianalogikan sebagai air panas. Bagi orang normal, apabila dia
diberikan masalah dan dapat mengataasinya dengan baik, maka kepribadiannya
tetaplah utuh. Diibaratkan gelas kaca yang tetap kuat jika dituangkan air panas
ke dalamnya. Sedangkan bagi individu yang memiliki indikasi untuk memiliki DID,
apabila diberikan masalah, maka pertahanan dirinya akan terpecah menjadi
sosok-sosok lain yang dianggapnya lebih kuat untuk menghadapi masalah itu
sehingga sosok-sosok itulah yang memecah kepribadiannya menjadi beberapa
kepribadian yang berbeda. Diibaratkan gelas kaca yang retak bahkan pecah ketika
dituangkan air panas ke dalamnya.
Dalam kasus gangguan Dissociative
Identity Disorder, tujuan dari terapi yang dijalani oleh pengidapnya adalah
bukan untuk sembuh, lebih tepatnya adalah untuk mengintegrasikan seluruh
pecahan-pecahan kepribadiannya menjadi satu kepribadian utuh. Lalu,
kepribadiannya yang utuh itulah yang nantinya diajarkan untuk menghadapi suatu
permasalahan, bukan pecahan dari kepribadiannya yang mengatasi masalah itu. Setelah bu Irma menjelaskan
mengenai DID, talkshow bersama mba Wella pun dimulai. Mba Wella bercerita bahwa
gejala Dissociative Identity Disorder mulai dia alami ketika dia berumur 11
tahun, namun saat itu dia masih belum tahu apa nama gangguan tersebut.
Saat itu yang dia rasakan adalah
rasa cemas, takut, dan panic yang berlebihan. Selain itu, dia mengalami hilang
ingatan sehingga beliau merasa banyak kegiatan yang terlewati olehnya namun dia
tidak bisa mengingat apa yang terjadi selama dia melewati momen-momen itu.
Perubahan fisik pun juga dialaminya, akibat cemas, takut, dan rasa panik yang
berlebihan, tekanan darahnya menjadi tidak stabil. Akibat gejala fisik yang
dialaminya, pihak keluarganya membawanaya ke dokter dan dia diagnosa mengalami
penyakit lambung karena rasa cemasnya tersebut. Lalu, untuk mengecek ketidakstabilan
tekanan darahnya, dia dibawa ke dokter ahli jantung namun dokter mengatakan
bahwa dia baik-baik saja. Lalu, ada saudaranya yang menyarankan membawa ke “orang
pintar.” Mba wella sudah diruqyah sebanyak 3x bahkan dia pun juga sudah menjalani
exorcist (semacam ruqyah dalam agama kristiani) dan hasilnya nihil.
Setelah proses tersebut, salah saudaranya menyarankan kepada keluarganya agar mba Wella diperiksa oleh psikiater atau psikolog karena dia merasa mba Wella itu memiliki kecenderungan gila. Mba Wella pertama kali memeriksakan diri ke psikolog dan psikiater di salah satu rumah sakit di Surabaya. Hasil diagnosanya adalah dia mengalami gangguan mood bipolar. Diagnosa di tempat lain pun dilakukannya dan menunjukkan hasil bahwa dia mengalami panic attack karena rasa panik yang berlebihan. Namun, setelah medapatkan diagnose yang berbeda-beda, ternyata mba Wella tidak merasa lebih baik dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan memeriksakan dirinya kesana. Ketika tiba di Jakarta, dia memeriksakan dirinya di RSCM dengan 4 orang psikolog dan psikiater. Sebenarnya, ada salah satu kunci utama akhirnya dia dapat didiagnosa mengalami DID. Mba Wella menyatakan bahwa dia buth waktu yang lama untuk mengungkapkan bahwa dia juga mengalami kehilangan ingatan pada momen-momen di hidupnya dan ketika dia menjelaskannya pada tim psikiater dan psikolog RSCM, ditambah dengan pertimbangan lebih lanjut, akhirnya mba wella didiagnosa mengalami DID.
Baginya, memiliki kepribadian yang beragam itu sangat merepotkan. Mba Wella menceritakan bahwa terrnyata dirinya juga memiliki kartu tanda pengenal yang berbeda-beda dan dia pun tidak ingat bahwa dia juga telah pindah ke rumah baru. Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang identitasnya berbeda namun foto yang digunakan benar-benar sama persis foto dirinya adalah hal yang menyulitkan baginya. Sulitnya lagi ketika sistem KTP diubah menjadi e-KTP, jelasnya. Selain tidak diakui menjadi warga penduduk di daerah manapun karena dianggap sebagai data penduduk yang tidak valid, dia juga tidak bisa mendaftarkan dirinya menjadi anggota BPJS Kesehatan. Namun dengan dukungan teman-teman, orang-orang terdekatnya, dan pasangannya, Mba Wella merasa jauh lebih baik. Bahkan tahun ini, dia telah resmi dipersunting oleh pasangannya dan telah bekerja di sebuah perusahaan. Pasangannya, yang kini menjadi suaminya, merupakan salah satu orang terpenting dalam membantu Mba Wella berjuang melawan gangguan DID ini. Bahkan suaminya pun telah dilatih oleh psikolog dan psikiater untuk menjadi konselor karena nantinya dia akan menjadi orang pertama yang mampu memberikan pertolongan pertama untuk Mba Wella. Mba Wella mengikuti beberapa terapi yaitu hipnoterapi, terapi obat untuk menstabilkan moodnya, dan psikoterapi. Menurutnya, psikoterapi adalah terapi yang paling menyakitkan karena dia harus menghadapi trauma-trauma masa lalunya dan harus dia selesaikan sendiri. Dalam proses psikoterapi, dia menjelaskan bahwa psikolog melakukan perbincangan seperti biasa layakanya klien dengan psikolog namun pertanyaan yang diajukan seputar hal-hal yang menjadi trigger di masa lalunya dan Mba Wella diminta untuk memberikan jawaban sedetil mungkin sampai Mba Wella merasa bahwa hal yang traumatis itu menjadi hal yang biasa baginya. Dibantu dengan psikolog dan psikiater, dari tahun 2013 hingga saat ini Mba Wella masih menjalani psikoterapi dan terapi lainnya. Selain itu, terapi yang dia jalani adalah art therapy, yaitu ketika dia memiliki suatu pikiran atau ide yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata maka dia tuangkan pemikirannya ke dalam sebuah lukisan.
Saat ini, Mba Wella menjadi salah
satu founder komunitas Raise Up Community yang memiliki tujuan untuk mewadahi
individu yang memiliki gangguan psikologis seperti dirinya maupun yang
mengalami gangguan psikologis lainnya. Raise Up Community didirikannya bersama
ketiga temannya yang menjadi survivor bipolar, PTSD, dan korban pemerkosaan.
Kegiatan yang dilakukan di dalam komunitas tersebut adalah kegiatan teurapeutik
yang terdiri dari 10-15 orang dalam 1 kelompok tiap 1x pertemuan yang dipandu
juga oleh seorang psikolog dan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan dalam
sebuah supporting group. Selain itu, komunitasnya juga melakukan psikoedukasi
bersama para caregiver yang terdiri dari mahasiswa fakultas psikologi dan
fakultas kedokteran dari berbagai universitas. Melalui komunitas ini juga, Mba Wella berharap masyarakat juga dapat lebih aware mengenai isu kesehatan mental.
Mba Wella berpesan di akhir talkshow
untuk masayarakat dan orang-orang yang memiliki saudara atau teman yang
memiliki gangguan psikologis sepertinya. Dia berpesan bahwa perlakukanlah kami
dengan normal dan kami hanya ingin didengarkan. Orang-orang dengan gangguan
psikologis hanya butuh didengarkan, kami tidak perlu dikasihani ataupun
diberikan nasihat. Jika kalian juga sedang berjuang seperti saya, ayo
semangat.. Kalian pasti bisa dan jangan menyerah, katanya dengan semangat.
Kalian tidak boleh kalah dengan gangguan ini, tetapi pengganggu ini yang harus
kita lawan dan kendalikan. Acara talkshow pun berakhir pukul 4 sore. Acara
ditutup dengan pemberian sertifikat dan plakat kepada Mba Wella oleh perwakilan
Fakultas Pendidikan Psikologi UNJ serta foto bersama Mba Wella dan komunitas
Movie On Campus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar